Pada era modern, zaman
berkembang pesat mengikuti arah kemajuan dunia yang semakin canggih dengan adanya
berbagai teknologi. Cara
mencuci manual kini telah ditinggalkan karena sebagai ahli
dibidang teknik menciptakan alat yang bernama “mesin cuci” yang memudahkan dan mempercepat pekerjaan ibu rumah tangga. Hal ini juga membuat bermunculannya jasa-jasa pencucian baju dengan harga yang terjangkau. Pabrik-pabrik deterjen pun
berlomba-lomba menjual deterjen yang cocok dengan mesin cuci dan yag
menghasilkan banyak busa.
Deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang
memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah
dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan
pewangi. sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan
kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu
menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme
di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat
(LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan. Di
balik kemajuan zaman yang pesat ada konsekuensi yang harus dihadapi yaitu
masalah penggunan deterjen. Sering kali para ibu memilih deterjen yang memiliki
banyak busa padahal itu sangat keliru karena sabun
sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau
daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa.
Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan
menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung
logam-logam tertentu atau kapur). Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam
air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan
terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa
air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas
permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya
surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.
Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Apalagi untuk menhasilkan busa yang banyak maka deterjen yang dipakai pun harus banyak dan dampak pencemaran yang ditimbulkan pun semakin tinggi terutama pencemaran tanah. Tanah yang terus-menerus menyerap sisa deterjen akan mengalami penurunan kadar alkalinya yang nantinya dapat menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan tanah. Juga sungai yang menjadi hilir pembuangan oleh selokan akan mendapatkan dampak yang sama.
Belakangan
ini jika kita melihat berita di televisi, banyak dijumpai sungai-sungai maupun
danau yang berubah menjadi rawa seketika. Hal ini merupakan akibat dari
pencemaran air buangan deterjen. Deterjen yang memiliki kadar pH yang rendah
akan membuat pertumbuhan tanaman rawa seperti eceng gondok dan sebagainya
meningkat secara drastis. Pertumbuhan yang melebihi batas ekosistem inilah yang
membuat tanaman tersebut memenuhi sungai maupun danau. Selain itu ikan yang
berhabitat disana dapat bermutasi sehingga menjadi racun bila dikonsumsi.
Kemajuan
teknologi yang diciptakan oleh ilmu keteknikan memang sangat membantu seluruh masyarakat
untuk mempermudah pekerjaan. Namun, sebagai masyarakat Indonesia yang peduli
dengan masa depan generasi kita haruslah cermat dalam menyikapi perkembangan
zaman. Karena, apapun yang kita temukan dan yang apapun yang kita lakukan
haruslah selalu menjaga lingkungan kita. Sehingga pencemaran lingkungan dapat
dikurangi supaya kelak anak dan cucu kita nanti masih bisa menikmati keindahan
dunia yang bebas dari polusi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar