Senin, 17 Agustus 2015













 
Pada era modern, zaman berkembang pesat mengikuti arah kemajuan dunia yang semakin canggih dengan adanya berbagai teknologi. Cara mencuci manual kini telah ditinggalkan karena sebagai ahli dibidang teknik menciptakan alat yang bernama  “mesin cuci” yang memudahkan dan mempercepat pekerjaan ibu rumah tangga. Hal ini juga membuat bermunculannya jasa-jasa pencucian baju dengan harga yang terjangkau. Pabrik-pabrik deterjen pun berlomba-lomba menjual deterjen yang cocok dengan mesin cuci dan yag menghasilkan banyak busa.

   Deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.             Di balik kemajuan zaman yang pesat ada konsekuensi yang harus dihadapi yaitu masalah penggunan deterjen. Sering kali para ibu memilih deterjen yang memiliki banyak busa padahal itu sangat keliru karena sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa.

   Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.     


Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Apalagi untuk menhasilkan busa yang banyak maka deterjen yang dipakai pun harus banyak dan dampak  pencemaran yang ditimbulkan pun semakin tinggi terutama pencemaran tanah. Tanah yang terus-menerus menyerap sisa deterjen akan mengalami penurunan kadar alkalinya yang nantinya dapat menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan tanah. Juga sungai yang menjadi hilir pembuangan oleh selokan akan mendapatkan dampak yang sama.



Belakangan ini jika kita melihat berita di televisi, banyak dijumpai sungai-sungai maupun danau yang berubah menjadi rawa seketika. Hal ini merupakan akibat dari pencemaran air buangan deterjen. Deterjen yang memiliki kadar pH yang rendah akan membuat pertumbuhan tanaman rawa seperti eceng gondok dan sebagainya meningkat secara drastis. Pertumbuhan yang melebihi batas ekosistem inilah yang membuat tanaman tersebut memenuhi sungai maupun danau. Selain itu ikan yang berhabitat disana dapat bermutasi sehingga menjadi racun bila dikonsumsi.

Kemajuan teknologi yang diciptakan oleh ilmu keteknikan memang sangat membantu seluruh masyarakat untuk mempermudah pekerjaan. Namun, sebagai masyarakat Indonesia yang peduli dengan masa depan generasi kita haruslah cermat dalam menyikapi perkembangan zaman. Karena, apapun yang kita temukan dan yang apapun yang kita lakukan haruslah selalu menjaga lingkungan kita. Sehingga pencemaran lingkungan dapat dikurangi supaya kelak anak dan cucu kita nanti masih bisa menikmati keindahan dunia yang bebas dari polusi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar